Hari itu, Pak Budi pengusaha kuliner tampan asal Madiun seharusnya bertemu agen properti yang menawarkan kerja sama di kawasan Sawojajar. Tapi, entah kenapa, Google Maps-nya malah ngelantur, ngajak dia ke jalan yang belum pernah ia lewati. Mobilnya belok kanan, belok kiri, sampai akhirnya masuk ke kawasan perumahan yang rapi banget. Di depannya, berdiri patung kuda besar.
“Lho, iki nang ngendi, kok tekan patung jaran?” gumamnya pelan, bingung setengah mati.
Dia akhirnya nepi di depan Indomaret, dia ngeliat ada orang lagi duduk santai di sudut bangunan, merokok sambil ngelamun. Orang berkemeja putih dengan style rambut yang tak biasa, itu keliatan rileks, tapi dari cara dia duduk, kelihatan banget bukan warga. Pak Budi yang nggak mau banyak mikir, langsung aja mendekat.
“Mas, bisa pinjam korek nggak?,” tanya Pak Budi.
Orang itu ngeliat Pak Budi sebentar, lalu tersenyum sambil nyodorin korek gas kecil. “Tentu, Mas. Pake rokok Surya 12 ya?”
“Iya, bener. Surya 12, rokok andalan,” jawab Pak Budi sambil nyalain rokoknya. “Enak nih, buat ngilangin suntuk.”
Setelah ngerokok beberapa hisapan, Pak Budi merasa lebih relax. Dia pun mulai ngobrol. “Mas, ini perumahan apa ya? Bagus juga…”
Orang itu ngeliat Pak Budi sambil senyum, “Citra Garden Malang, Mas. Mas baru pertama kali ke sini?”
“Iya, seharusnya saya ke tempat lain, tapi malah kesasar. Tapi... kok kayaknya tempat ini justru bikin penasaran,” ujar Pak Budi sambil tersenyum, kayak nemu sesuatu yang nggak disangka-sangka.
Orang itu ketawa kecil. “Berarti sampean disasarno sama semesta. Nama saya Wahyu, arsitek di sini.”
Pak Budi agak kaget. “Wah kebetulan! Saya lagi nyari tempat buat usaha sekalian nyari tempat istirahat kalau bosan di Madiun.”
Pak Wahyu tertawa lebar. “Wah, berarti nggak salah tempat. Kebetulan banget, saya lagi nggak sibuk. Kalau mau, bisa saya ajak keliling.”
Mereka berdua langsung naik mobil dan mulai muterin Cluster Spring Dale. Pak Budi kagum banget, rumah-rumahnya nggak cuma modern, tapi suasananya nyaman banget, dikelilingi taman-taman hijau dan udara pegunungan yang segar.
Pak Wahyu nunjukin Eco Park, sambil jelasin kalau kawasan ini dikembangkan dengan konsep eco living di mana ruang hijau, danau buatan, dan fasilitas komunitas itu saling nyambung dengan alam.
“Yang di sana, The Cove, cocok banget buat yang suka suasana resort. Banyak anak muda mulai pindah ke sini, loh,” kata Pak Wahyu sambil nunjukin arah.
Pak Budi senyum-senyum sambil ngeliatin pohon tabebuya yang baru ditanam. “Wah, adem ya. Kayaknya sih, enak banget kalau tinggal di sini, jauh dari keramaian bisnis.”
Setelah keliling, mereka balik lagi ke tempat semula, Pak Budi melirik patung kuda yang berdiri gagah di bundaran.
“Mas Wahyu, wong-wong ki nak survei rumah itu pakai jadwal. Aku malah disasar GPS, ndek patung jaran, terus pinjam korek, eh nemu perumahan sing ayem ngene.”
Pak Wahyu ngakak, “Yah, kadang rumah yang pas itu datangnya bukan dari rencana... tapi dari korek pinjeman.”
Pak Budi nyengir sambil manggut-manggut. “Berarti takdirku diatur karo Google Maps lan Surya 12.”
Hari itu mereka tukar nomor. Tapi buat Pak Budi, itu lebih dari sekadar ngobrol.
Karena ya... siapa sangka, investasi hidup bisa dimulai dari rokok, korek pinjeman, lan patung jaran.
Jangan lupa like patung kuda biar segera punya rumah di sini 😄🐎
Malangsoft